Selamat Datang

Selamat Datang di Situs Saya.
Situs ini masih dalam pengembangan, dan membutuhkan masukan bagi pengunjung. Jika ada yang komentar, kritik dan saran tolong diinfokan pada saya di syarif_soppeng@yahoo.co.id atau di komentar. terima kasih

Minggu, 15 Juli 2007

Artikel Gender

No. URT 01
Nama : Muhammad Syarif
NIM : 06503061

FENOMENA GENDER

1. PENDAHULUAN

Beberapa tahun belakangan ini istilah gender menjadi bahan perbincangan yang hangat di berbagai forum dan media, formal maupun informal. Hampir setiap bidang pembangunan menganjurkan dilaksanakannya analisis gender dalam komponen program. Namun, tidak sedikit pula yang masih menganggap bahwa Gender adalah sama dengan jenis kelamin atau lebih sempit lagi, gender = perempuan. Hal ini tidak mengherankan mengingat memang lebih banyak kaum perempuan yang mendapat dampak dari ketidakadilan gender dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat, daripada kaum laki-laki. Sehingga, ketika masalah gender diperbincangkan, seolah-olah hal tersebut telah identik dengan masalah kaum perempuan.

Apa itu gender?

Kata gender berasal dari bahasa Inggris berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.

Di dalam Women's Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender).

Berdasarkan Inpres No. 9 Tahun 2000 disebutkan bahwa

§ Gender merupakan konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat.

§ Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan dan keamanan nasional dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut.

2. GENDER DALAM TINJAUAN ILMU SOSIAL

Ditinjau dari teori evolusi, sejarah gender ini sebenarnya telah berlangsung lama, meskipun istilah gender belum dikenal saat itu. Sejak jaman pra sejarah perempuan dan laki-laki mempunyai peran tersendiri, namun dalam hal kebijakan laki-laki sangat dominan dan seiring dengan perkembangan jaman peran perempuan semakin meluas di segala sisi. Keterpurukan peran perempuan pada beberapa zaman seperti jaman jahilia di Jasirah Arab juga menggambarkan betapa perempuan pada jaman dahulu dipandang sebelah mata.

Kesamaan perempuan dan laki-laki dimulai dengan dikumandangkannya ‘emansipasi’ di tahun 1950 dan 1960-an. Setelah itu tahun 1963 muncul gerakan kaum perempuan yang mendeklarasikan suatu resolusi melalui badan ekonomi sosial PBB. Kesamaan perempuan dan laki-laki diperkuat dengan deklarasi yang dihasilkan dari konferensi PBB tahun 1975, yang memprioritaskan pembangunan bagi kaum perempuan. Berkaitan dengan itu dikembangkan berbagai program pemberdayaan perempuan, dan mulai diperkenalkan tema Women In Development (WID), yang bermaksud mengintegrasi perempuan dalam pembangunan. Setelah itu, beberapa kali terjadi pertemuan internasional yang memperhatikan tentang pemberdayaan perempuan. Sampai akhirnya sekitar tahun 1980-an, berbagai studi menunjukkan bahwa kualitas kesetaraan lebih penting daripada sekedar kuantitas, maka tema WID diubah menjadi Women and Development (WAD).

Tahun 1992 dan 1993, studi Anderson dan Moser memberikan rekomendasi bahwa tanpa kerelaan, kerjasama, dan keterlibatan kaum laki-laki maka program pemberdayaan perempuan tidak akan berhasil dengan baik. Pada tahun 2000 konferensi PBB menghasilkan ‘The Millenium Development Goals’ (MDGs) yang mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sebagai cara efektif untuk memerangi kemiskinan, kelaparan, dan penyakit serta menstimulasi pembangunan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Dengan demikian, gender adalah perbedaan peran, sifat, tugas, fungsi, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dan dikonstruksikan oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Dari tinjauan teori konflik, gender menimbulkan banyak benturan. Mulai dari keluarga dimana beberapa suami merasa dengan emansipasi perempuan dalam kebijakan, menimbulkan suami menjadi “kecil” dimata isteri belum lagi istri yang tidak menghiraukan keluarga karena kesibukan di luar rumah yang timbul akibat “gender” dan beberapa persoalan yang mendatangkan rasa tidak nyaman bagi suami/laki-laki dalam lingkungan keluarga. Di Pemerintahan kita banyak melihat PNS wanita yang lebih banyak menganggur daripada bekerja. Umumnya mereka lemah dalam penguasaan komputer sehingga tidak optimal dalam mengerjakan pekerjaan administrasi perkantoran. Padahal potensinya begitu besar kalau kita dapat memberdayakannya. Ada pula cerita tentang seorang perempuan yang baru ikut kursus penyetaraan gender, dan dengan menggebu-gebu dia menceritakan persamaan hak pria dan wanita. Lucunya begitu giliran buat laporan. eh dia pasrah sama pria rajin teman kursusunya.

Secara sosiologis, ada 2 konsep yang menyebabkan terjadinya perbedaan laki-laki dan perempuan:

o Konsep nurture : Perbedaan laki-laki dan perempuan adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda.

o Konsep nature : Perbedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat, sehingga harus diterima.

Dalam proses perkembangannya, disadari bahwa ada beberapa kelemahan konsep nurture yang dirasa tidak menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat, yaitu terjadi ketidak-adilan gender. Agregat ketidak-adilan gender dalam berbagai kehidupan lebih banyak dialami oleh perempuan, namun ketidak-adilan gender ini berdampak pula terhadap laki-laki.

Pengetahuan dan pengalaman kaum perempuan dihadirkan sebagai jalan untuk menghargai kemanusiaan perempuan. Dengan cara semacam ini pula subjektivasi dapat dilakukan khususnya dengan membiarkan perempuan bercerita dan mengungkapkan ekspresinya secara bebas dengan nilai dan ukurannya yang disusun sendiri. Dalam hal ini tataran dan pemaknaan suatu simbol atau isyarat yang diberikan oleh kaum perempuan harus dibedakan pada unit individu, rumah tangga dan keluarga atau bahkan institusi dengan struktur hubungannya sendiri-sendiri. Derajat otonomi perempuan dalam mengekspresikan dirinya sangat berbeda antara satu unit dengan unit lain. Unit-unit itu pula yang mendefinisikan berbagai bentuk hubungan gender yang hadir secara empiris. Diperlukan pemahaman teori-teori gender secara lebih rinci. Meneliti perkosaan sebagai suatu tindak kekerasan tidak akan kaya dengan nilai-nilai perempuan di dalamnya atau tidak akan sensitif dengan isu hubungan gender jika mengambil teori konflik, misalnya. Analisis akan bernuansa gender dalam aspek pengambilan kebijakan jika teori struktur dan fungsi atau teori pertukaran sosial yang dipakai.

3. REFERENSI

Abdullah Irwan. Penelitian berwawasan gender dalam ilmu sosial. Humaniora Volume XV, No. 3/2003. UGM Yogyakarta

Internet (www.asiandevbank.org, www.bappenas.go.id, www.rahima.or.id islamlib.com, wri.or.id, dll)

Judistira, Ilmu-Ilmu Sosial Dasar-Konsep-Posisi. Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran. Bandung 1996

www.asiandevbank.org/Documents/Translations/Indonesian/Kebijakan_Gender_ID.pdf

www.bappenas.go.id/.../&view=180/gender.pdf

www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUG/LapThn_2005.htm

www.adb.org/Documents/Translations/Indonesian/Resettlement-ID.pdf

www.adb.org/Documents/Translations/Indonesian/Agriculture-ID.pdf

www.rahima.or.id/SR/01-01/Opini.htm

saran.kesrepro.info/komunitasgender.htm

e-aceh-nias.org/upload/08012007085950.pdf

www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/Books/BDede0601.pdf

wri.or.id/gender/index.php

islamlib.com/id/index.php?page=article&id=445

www.direktori-perdamaian.org/ina/event.php?id=14

Irwan Abdullah, Penelitian berwawasan gende dalam ilmu sosial. Humaniora Volume XV, No. 3/2003. UGM Yogyakarta




PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

GAMBARAN MANAJEMEN PEMBELAJARAN TIK DI SMA NEGERI 1 MARIORIWAWO KABUPATEN SOPPENG

Oleh

Muhammad Syarif

NIM. 06503061

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR (UNM)

2007

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Belajar merupakan kewajiban setiap manusia yang berlangsung seumur hidup, tidak ada alasan untuk tidak belajar. Hal ini telah disikapi oleh pemerintah negara Republik Indonesia dengan menempatkan belajar pada Undang-Undang Dasar 45. Berbagai upaya telah dilakukan, kesemuanya itu mempunyai satu tujuan yaitu meningkatkan mutu luaran dari proses pendidikan.

Memasuki abad ke-21, bidang teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat yang dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa material mikroelektronika. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada teknologi informasi dan komunikasi. Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut.

Mata pelajaran ini perlu diperkenalkan, dipraktikkan dan dikuasai peserta didik sedini mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk menghadapi perubahan tersebut diperlukan kemampuan dan kemauan belajar sepanjang hayat dengan cepat dan cerdas. Hasil-hasil teknologi informasi dan komunikasi banyak membantu manusia untuk dapat belajar secara cepat. Dengan demikian selain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan peserta didik dengan lingkungan dan dunia kerja.

Dengan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada kurikulum ini mata pelajaran TIK ini mulai diperkenalkan. Seiring dengan perbaikan Kurikulum Berbasis Kompetensi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), mata pelajaran ini dirampingkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada jenjang SMA/MA mencakup penguasaan keterampilan komputer, prinsip kerja berbagai jenis peralatan komunikasi dan cara memperoleh, mengolah dan mengkomunikasikan informasi. Mata pelajaran ini merupakan bekal bagi peserta didik untuk beradaptasi dengan dunia kerja dan perkembangan dunia termasuk pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

Sebagai mata pelajaran baru di sekolah, membuat sekolah kelabakan dalam mencari tenaga pengajar. karena guru yang mengajarkan TIK ini belum tersedia, akibatnya diambillah pengajar dari guru dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Guru pengajar tersebut ditunjuk karena telah mempunyai kemampuan dalam TIK melebihi guru lainnya. Alternatif lain, diambillah tenaga pengajar dari luar lingkungan sekolah, itupun masih ada yang diambil karena keterampilannya dalam pemanfaatan komputer, buka didasarkan atas latar belakang pendidikan Komputer.

Sistem manajemen yang sesuai dengan kondisi mata pelajaran ini sangat diperlukan. Tentunya guru harus melakukan manajemen pembelajaran TIK yang nota bene merupakan pelajaran baru yang terdiri dari aspek perencanaan, pengorganisasian, Pengarahan dan pengawasan.

Dari dasar inilah peneliti berinisiatif untuk meneliti manajemen pembelajaran TIK di SMA Negeri 1 Marioriwawo Kabupaten Soppeng.

B. FOKUS PENELITIAN

Fokus Penelitian adalah Manajemen Pembelajaran TIK yang meliputi Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Yang akan dihubungkan dengan Keputusan Menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 025/O/1995 tentang Petunjuk teknis ketentuan pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, bahwa tugas pokok guru mata pelajaran dalam hal proses belajar mengajar mata pelajaran adalah

1. Menyusun Program pengajaran dengan bukti fisiknya adalah satuan pelajaran termasuk program pengajaran sebagai fungsi perencanaan

2. Menyajikan Program pengajaran dengan bukti fisiknya adalah surat keputusan Kepala sekolah tentang pembagian tugas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sebagai pengorganisasian dan pengarahan

3. Mengavaluasi hasil belajar dengan bukti fisiknya buku evaluasi belajar sebagai fungsi pengawasan

4. Menganalisis hasil evaluasi belajar dengan bukti fisik berupa buku hasil analisis evaluasi belajar sebagai fungsi pengawasan

5. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan bukti fisiknya adalah buku program perbaikan dan pengayaan sebagai fungsi pengawasan

C. RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah Manajemen guru Mata Pelajaran TIK di SMA Negeri 1 Marioriwawo Kab. Soppeng yang meliputi fungsi perencanaan, pengorganisasian, Pengarahan, dan pengawasan

D. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Gambaran Manajemen guru Mata Pelajaran TIK di SMA Negeri 1 Marioriwawo Kab. Soppeng yang dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan

E. MANFAAT HASIL PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya kajian mengenai betapa pentingnya peran siswa khususnya pada mata pelajaran TIK

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai bahan masukan bagi Instansi terkait mengenai gambaran manajemen guru Mata pelajaran TIK di SMA Negeri 1 Marioriwawo Kab. Soppeng, untuk dilakukan tindak lanjut.

b. Sebagai bahan rujukan manajemen pembelajaran TIK bagi beberapa sekolah sejenis SMA Negeri 1 Marioriwawo

II. KAJIAN PUSTAKA

  1. KELOMPOK MATA PELAJARAN

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

  1. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;

b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;

  1. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
  2. kelompok mata pelajaran estetika;
  3. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.

Cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Cakupan Kelompok Mata Pelajaran

No

Kelompok Mata Pelajaran

Cakupan

1.

Agama dan Akhlak Mulia

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

2.

Kewarganega-raan dan Kepribadian

Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.

Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

3.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

4.

Estetika

Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

5.

Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.

Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.

  1. KONSEP DASAR MANAJEMEN

Istilah manajemen berasal dari bahasa Italia, managgiare yang berarti melatih kuda. Walaupun demikian dalam pengembangan belum semua ahli memiliki kesamaan arti. Dari berbagai literature manajemen diartikan ketetlaksanaan, pengurusan, penguasaan atau tata pelaksanaan.

OLIVER SHELDON (1989 : 4) merumuskan bahwa mnanajemen adalah sebagai proses yang dengan proses tersebut penyelenggaraan suatu tujuan tertentu dijalankan dan diawasi.

GEORGE R. TERRI (1989 : 14) mendefinisikan bahwa manajemen sebagai suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan mengawasi, dan untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan bantuan orang-orang dan bahan-bahan.

H. KONTZ O’DONNEL (1989 : 15) menjelaskan bahwa manajeman berhubungan dengan pencapaian suatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang lain.

Dalam ensiklopedi administrasi manajemen diartikan sebagai segenap perbuatan menggerakkan sekolompok orang dan mengarahkan fasilitas dalam suatu usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.

Dari berbagai pendapat di atas dapat ditari kesimpulan bahwa manajemen itu pada hakekatnya adalah suatu prose pencapaian tujuan dengan mengelola sumber daya manusia dan sumberdaya lainnya dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Pengelolaan ini biasa diartikan untuk memanfaatkan secara efektif dan efesien 5 (lima) M. yakni Man (manusia) Money (dana), Mochinee (peralatan), Material (bahan) dan Methode (cara/proses).

Berbagai ahli menggambarlan fungsi manajemen secara berbeda.

G.R TERRY mengemukakan ada empat fungsi manajemen yakni :

- Planning

- Organizing

- Actuating

- Controlling

KOONTZ & O’DONNEL menuliskan ada lima fungsi manajemen yakni:

- Planning

- Organizing

- Staffing

- Directing

- Controlling

Sementara HENRY FAYOL mengemukakan ada lima fungsi manajemen yakni :

- Planning

- Organizing

- Commanding

- Coordinating

- Controlling

LUTHER GULLICK menuliskan fungsi manajemen ada delapan yakni :

- Planning

- Organizing

- Staffing

- Directing

- Coordinating

- Controling

- Reporting

- Budgeting

LINDA FURWICK menyebutkan ada enam fungsi manajemen yakni :

- Fercasting

- Planning

- Organizing

- Commanding

- Coordinating

- Controling

Adapun WILLIAM SPRIEGEL mengemukakan bahwa ada tiga fungsi manajemen yakni :

- Planning

- Organizing

- Controling

LOUIS A. ALLEN menjelaskan bahwa ada empat fungsi manajemen yakni :

- Planning

- Organizing

- Controling

- Leading

Sementara WILLIAM H. NEWMAN menuliskan ada lima fungsi manajemen yakni :

- Planning

- Organizing

- Directing

- Assembling of Resources

- Controlling

Adapun THE LIANG GIE menjelaskan bahwa ada fungsi manajemen, yakni :

- Planning (pembuatan keputusan)

- Decision Making ( pembuatan keputusan)

- Directing (pengarahan)

- Coordinating (pengkoordinasian)

- Controlling (pengontrolon)

- Perfecting (penyempurnaan)

Perbedaan pandangan para ahli, terhadap fungsi manajemen akan lebih jelas dengan melihat tabel berikut ini :

Tabel 1

Fungsi-Fungsi Manajemen menurut Para Ahli

Fungsi-

Fungsi

Manajemen

Nama ahli

Fercosting

Planning

Organizing

Staffing

Commanding

Directing

Actuating

Coordinating

Assembling of reources

Controlling

Reporting

Budgeting

Leading

Decision making

GR. TERRY

KOONTZ & O’ DONNEL

HENRY FAYOL

LUTHER GULICK

LINDALL F. URWICK

WILLIAM SPRIENGEL

LOUIS A. ALLEN

WILLIAM E. NEWMAN

THE LIANG GIE

ABDULLAH RASLA

X

X

X

X

-

X

X

X

X

X

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

X

-

X

-

X

-

X

X

X

X

X

X

-

-

-

-

-

X

X

X

X

X

X

-

X

-

X

X

X

-

-

X

-

X

X

X

X

X

X

X

X

-

X

X

-

-

-

X

X

X

-

X

X

X

X

X

X

X

X

-

X

X

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

X

X

X

-

X

X

X

X

-

X

X

X

X

-

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

-

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

-

X

Sumber : AD. Sadly (1989 : 15)

Keterangan : - : Ya X: tidak

1. Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen terdiri dari berbagai bidang yang memilik bahasan yang amat luas dan kompleks. Salah satu diantaranya adalah manajemen sumber daya manusia, disamping bidang manajemen lainnya misalnya manajemen pemasaran, manajemen keuangan atau manajemen produksi.

Perhatian manajemen sumber daya manusia banyak diarahkan kepada perilaku manusia dalam sebuah organisasi, dengan harapan dapat mengoptimalkan perilaku tersebut dalam menunjang tujuan organisasi.

Beberapa pendapat ahli tentang manajemen sumber daya manusia antara lain :

Menurut Suad Husnan dan Heidrakhmat (1994 : 1) mengatakan, manajemen sumber daya manusia sebagai perencanaan, pengorganisasi, pengarahan dan pengawasan dari proses pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian dan pemeliharaan tenaga kerja dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan, individu dan masyarakat.

Sedangkan Gonus (2001:14) berpendapat bahwa manajemen sumber daya manusia adalah pengembangan dan pemanfaatan personil bagi pencapaian yang efektif mengenai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan individu, organisasi, masyarakat, nasional dan internasional.

Manajemen sumber daya manusia adalah satu ilmu/seni untuk melaksanakan kegiatan antara lain planning, organizing, derecting, controlling sehingga afesiensi dan efektifitas personalia dapat ditingkatkan semaksimal mungkin dalam pencapaian tujuan (Nitisamito, 1996 : 1).

Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan cabang dari manajemen yang mengatur manusia sebagai tenaga kerja dengan segala persoalannya agar dapat melaksanakan tugas secara efesien dan efektif sehingga merupakan sumbangan yang besar segi pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.

Jadi manajemen sumber daya manusia dalam penerapannya bertujuan mendayagunakan sumber daya yang ada secara efesien untuk mencapai tujuan organisasi, cara bagaimana memberikan fasilitas untuk menumbuhkan partisipasi para karyawan di dalam suatu organisasi juga merupakan sasaran bagi manajemen sumber daya manusia.

Dengan demikian fungsi operasional sumber daya manusia tidak terlepas dari tujuan perusahaan karena fungsi-fungsi operasional merupakan suatu tugas dan tanggung jawab yang benar-benar membutuhkan kebijakan dalam pelaksanaannya agar karyawan memperoleh kepuasan-kepuasan yang diharapkan dalam bekerja.

Manajemen adalah fungsi yang berhubungan dengan mewujudkan hasil tertentu melalui kegiatan orang-orang. Hal ini berarti sumber daya manusia berperan penting dan dominan dalam manajemen. Manajemen sumber daya manusia mengatur dan menetapkan program kepegawaian yang mencakup masalah-masalah sebagai berikut (Hasibuan, 2001 : 4)

1. Menetapkan jumlah kualitas dan penempatan kerja yang efektif sesuai dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan Job Description, Job recruitment dan Job Evaluation.

2. Menempakan penarikan seleksi dan penempatan karyawan berdasarkan asas the right man is the right job.

3. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi dan pemberhentian.

4. Meramalkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang akan datang.

5. Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan pengembangan perusahaan pada khusunya .

6. Memonitor dengan cermat Undang-Undang perburuhan dan kebijaksanaan pemberian balas jasa perusahaan-perusahaan sejenis.

7. Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.

8. Melaksanakan pendidikan, bahkan penilaian prestasi karyawan.

9. Mengatur mutasi karyawan baik vertical maupun horizontal.

10. Mengatur pensiunan, pemberhentian dan pesangonnya.

Para ahli sependapat bahwa peranan manajemen sumber daya manusia sangat mentukan terwujudnya tujuan organisasi, akan tetapi untuk memimpin dan mengatur unsur manusia adalah satu hal yang sangat rumit dan sulit.

Ada tiga macam pengontrolan (pengawasan) yang dapat dikemukakan, tergantung dari sudut pandang yang dijadikan pangkal tolak, yaitu :

a. Dari segi objek, dapat dibedakan misalnya pada penjualan, produksi atau pendapatan

b. Dari segi subjek, dapat dibedakan misalnya apakah formal, informal, internal atau eksternal

c. Dari segi waktu, dapat dibedakan misalnya apakah preventif atau represif.

  1. GAMBARAN MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) UNTUK SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DAN MADRASAH ALIYAH (MA)

1. Latar Belakang

Memasuki abad ke-21, bidang teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat yang dipicu oleh temuan dalam bidang rekayasa material mikroelektronika. Perkembangan ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, bahkan perilaku dan aktivitas manusia kini banyak tergantung kepada teknologi informasi dan komunikasi. Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan tersebut.

Mata pelajaran ini perlu diperkenalkan, dipraktikkan dan dikuasai peserta didik sedini mungkin agar mereka memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat. Untuk menghadapi perubahan tersebut diperlukan kemampuan dan kemauan belajar sepanjang hayat dengan cepat dan cerdas. Hasil-hasil teknologi informasi dan komunikasi banyak membantu manusia untuk dapat belajar secara cepat. Dengan demikian selain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk merevitalisasi proses belajar yang pada akhirnya dapat mengadaptasikan peserta didik dengan lingkungan dan dunia kerja.

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada jenjang SMA/MA mencakup penguasaan keterampilan komputer, prinsip kerja berbagai jenis peralatan komunikasi dan cara memperoleh, mengolah dan mengkomunikasikan informasi. Mata pelajaran ini merupakan kelanjutan dari pengenalan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang telah diperoleh pada jenjang SMP/MTs, sekaligus sebagai bekal bagi peserta didik untuk beradaptasi dengan dunia kerja dan perkembangan dunia termasuk pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

2. Tujuan

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

a. Memahami teknologi informasi dan komunikasi

b. Mengembangkan keterampilan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi

c. Mengembangkan sikap kritis, kreatif, apresiatif dan mandiri dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi

d. Menghargai karya cipta di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

3. Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Teknologi informasi dan komunikasi meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1. Perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, dan menyajikan informasi

2. Penggunaan alat bantu untuk memproses dan memindah data dari satu perangkat ke perangkat lainnya.

4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada jenjang SMA/MA mencakup melakukan operasi dasar komputer, memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi, memahami ketentuan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, menggunakan operating system (OS) komputer, menggunakan perangkat lunak pengolah kata, menggunakan internet untuk keperluan informasi dan komunikasi, menggunakan perangkat lunak pengolah angka untuk menghasilkan informasi, menggunakan perangkat lunak pembuat grafis, dan menggunakan perangkat lunak pembuat presentasi. Mata pelajaran ini merupakan kelanjutan dari pengenalan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang telah diperoleh pada jenjang SMP/MTs, sekaligus sebagai bekal bagi peserta didik untuk beradaptasi dengan dunia kerja dan perkembangan dunia termasuk pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

Sifat mata pelajaran ini lebih menekankan pada domain kognitif dan psikomotorik, maka dalam mengimplementasikan di dalam kelas jumlah latihan akan merupakan faktor dominan dalam menunjang pemahaman pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sedangkan teori sebaiknya dipahami sambil berlatih membuat bentuk-bentuk baru sesuai dengan keinginan dan imajinasi siswa sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut pemakaian soal pilihan ganda untuk mengetahui pemahaman teori dibatasi sesedikit mungkin namun demikian dalam aspek penilaian guru diminta untuk memberikan tugas yang bervariasi dengan tetap lebih menekankan pada aspek kerja proyek. Dengan pengalaman belajar yang lebih menekankan pada aspek latihan yang nanti akan di terjemahkan kembali kedalam metode KBM didepan kelas, diharapkan akan terjadi proses KBM yang menyenangkan dan dapat lebih memotivasi siswa baik dalam mempelajari materi pelajaran ini maupun dalam menggunakan TIK untuk mendukung mata pelajaran lain.

5. Arah Pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

  1. MANAJEMEN PEMBELAJARAN TIK

Berdasarkan keputusan Menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 025/O/1995 tentang Petunjuk teknis ketentuan pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, bahwa tugas pokok guru mata pelajaran dalam hal proses belajar mengajar mata pelajaran adalah

6. Menyusun Program pengajaran dengan bukti fisiknya adalah satuan pelajaran termasuk program pengajaran

7. Menyajikan Program pengajaran dengan bukti fisiknya adalah surat keputusan Kepala sekolah tentang pembagian tugas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar

8. Mengavaluasi hasil belajar dengan bukti fisiknya buku evaluasi belajar

9. Menganalisis hasil evaluasi belajar dengan bukti fisik berupa buku hasil analisis evaluasi belajar

10. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan bukti fisiknya adalah buku program perbaikan dan pengayaan

Dan karena TIK merupakan salah satu mata pelajaran, maka tugas dan kewajiban guru yang mengajarkan TIK adalah sesuai dengan tugas pokok guru mata pelajaran dalam hal proses belajar mengajar mata pelajaran seperti yang dijelaskan di atas.

III. METODE PENELITIAN

  1. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jaitu berawal pada data dan bermuara pada kesimpulan (Bungin, 2001 : 18). Sasaran atau obyek penelitian dibatasi agar data yang diambil dapat digali sebanyak mungkin serta agar penelitian ini tidak dimungkinkan adanya pelebaran obyek penelitian, oleh karena itu, maka kredibilitas dari peneliti sendiri menentukan kualitas dari penelitian ini (Bungin, 2001:26)

Penelitian ini juga menginterpretasikan atau menterjemahkan dengan bahasa peneliti tentang hasil penelitian yang diperoleh dari informan dilapangan sebagai wacana untuk mendapat penjelasan tentang kondisi yang ada .

Dalam penelitian ini juga menggunakan jenis penelitian diskriptif, jaitu jenis penelitian yang hanya menggambarkan, meringkas berbagai kondisi dan situasi yang ada, Penulis mencoba menjabarkan kondisi konkrit dari obyek penelitian dan selanjutnya akan dihasilkan diskripsi tentang obyek penelitian.

Penelitian ini akan menggambarkan bagaimana manajemen pembelajaran TIK di SMA Negeri 1 Marioriwawo Kab. Soppeng, dimana untuk mengetahui bentuk manajemennya, diperlukan data dari guru mata pelajaran TIK, siswa, guru lain dan kepala sekolah dan memerlukan penelusuran mendalam mengenai teknik manajemen yang digunakan guru tersebut. Untuk itu analisis kualitatif sangat cocok untuk penelitian ini.

  1. TEMPAT PENELITIAN

Lokasi penelitian ini adalah di SMA Negeri 1 Marioriwawo Kabupaten Soppeng, yang akan dipusatkan pada beberapa kelas yang dianggap dapat memenuhi informasi yang dibutuhkan.

  1. INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen adalah alat untuk mengumpulkan data yang berupa angket atau kuesioner (Kountur, 2004, 113). Sehingga satu û satunya instrumen dalam penelitian kualtatif adalah peneliti sendiri. (Bungin 2001:71) karena peneliti sebagai pengumpul data yang mempengaruhi terhadap faktor instrumen.

Adapun reliabilitas dan validitasnya lebih pada kelayakan dan kredibilitas peneliti karena alat ukur dalam penelitian kualitatif bersifat kualitatif juga, sehingga sangat abstrak, akan tetapi lengkap dan mendalam.

Untuk mendapatkan data yang diinginkan dalam penelitian ini, berikut kisi-kisi sebagai pedoman.


Tabel 2

MATRIKS KISI-KISI PENGUMPULAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN

No.

Fokus/Konsep/ Variabel

Indikator

Teknik Pengumpulan data

Sumber data

Instrumen







1.

Penyusunan program pengajaran

· Adanya satuan pelajaran

analisis dokumen

Sekolah dan guru (sampel)

Lamp-1

2.

Pelaksanaan proses belajar mengajar

· Adanya Surat Keputusan Kepala sekolah tentang pembagian tugas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar

· Terlaksananya kegiatan belajar mengajar di kelas dan di luar kelas (laboratorium komputer)

Pengamatan, analisis dokumen, Wawancara

Sekolah, siswa, guru lain (diluar sampel)

Lamp-2

3.

Mengevaluasi hasil belajar

· Adanya soal sebagai alat evaluasi

· Ada lembar jawaban siswa

· Adanya buku evaluasi belajar

Pengamatan, analisis dokumen, Wawancara

Sekolah, siswa dan guru (sampel)

Lamp-3

4.

program perbaikan dan pengayaan

· Ada program perbaikan dan pengayaan

· Terlaksananya program perbaikan dan pengayaan

Pengamatan, analisis dokumen, Wawancara

Sekolah dan guru (sampel)

Lamp-4

  1. SAMPEL SUMBER DATA

Teknik pemilihan informan merupakan cara menentukan sample yang dalam penelitian kualitatif disebut informan.

Dalam penelitian kualitatif sample diambil secara purposive dengan maksud tidak harus mewakili seluruh populasi, sehingga sample memiliki pengetahuan yang cukup serta mampu menjelaskan keadaan sebenarnya tentang obyek penelitian. Apabila menggunakan wawancara sampel diambil dari beberapa kejadian, apabila menggunakan observasi. Apabila menggunakan teknik dokumentasi, sample dapat berupa bahan-bahan dokumenter, prasati, legenda, dan sebagainya (Bungin, 2001:173).

Sampel oleh Moleong ( 199:165) diartikan untuk menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya. Sehingga tujuannya bukanlah memusatkan diri pada adanya perbedaan-perbedaan yang nantinya digeneralisasikan. Tapi untuk merinci kekhususan yang ada kedalam ramuan konteks yang unik dari informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul.

Informan adalah orang yang berada pada lingkup penelitian, artinya orang yang dapat memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Jadi ia harus banyak pengalaman tentang penelitian dan secara sukarela menjadi anggota tim meskipun tidak secara formal, mereka dapat memberikan pandangannya dari dalam tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian setempat

Untuk maksud penelitian tersebut, maka digunakan pendekatan sosiogram (Koentjaraningrat, 1977:152), dengan asumsi yang akan dijadikan sampel adalah dapat menjadi wakil dari keseluruhan sampel yang diharapkan.

Cara untuk memilih informan yang dilakukan oleh peneliti pada langkah awal yaitu peneliti lebih memperdalam gambaran manajemen guru TIK, Guru yang bersangkutan akan dijadikan sample dalam penelitian. Juga dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu kepada siswa, guru lain dan kepala sekolah untuk mendapatkan informasi, yang akan menggambarkan tentang orang-orang yang dapat dipilih sebagai sampel.

Langkah berikutnya dengan menggali informasi lebih dalam untuk mendapatkan beberapa orang sampai dirasa cukup sebagai sampel dalam penelitian.

Dengan bekal informasi awal, peneliti melakukan observasi secara mendalam melalui wawancara dengan orang-orang yang telah ditetapkan sebagai sampel. Hal ini untuk menguji kebenaran informasi yang telah diperoleh dan untuk mendapatkan sampel dan penggolongan secara pasti dengan menggunakan teknik wawancara.

Dari hasil keterangan dan penjelasan yang didapatkan, kemudian dipastikan beberapa orang yang akan dijadikan sampel dan sekaligus dipastikan penggolongannya baik dari guru lain maupun siswa.

Pada penelitian ini, juga menentukan jumlah sampel baik secara kualitatif dan kuantitatif, artinya setiap organisasi politik dibatasi dua orang penentu kebijakan partai atau pengurus harian partai dan pengurus bidang perempuan partai disamping beberapa anggota sebagai pendukung data. Secara kualitatif bahwa informan berhadapan langsung dengan kondisi serta situasi penelitian. Pengambilan sampel didasarkan pada kecukupan jumlah informasi atau kecukupan jumlah data û data yang dibutuhkan dan bukan banyaknya sampel atau orang yang memberi informasi (informan).

  1. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Dalam memperoleh data yang dibutuhkan sebagai bahan pembuatan laporan penelitian, ada beberapa teknik, cara atau metode yang dilakukan oleh peneliti dan disesuaikan dengan jenis penelitian kualitatif yaitu :

Wawancara, menurut Lexy J Moleong (1991:135) dijelaskan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud-maksud tertentu. Pada metode ini peneliti dan responden berhadapan langsung ( face to face) untuk mendapatkan informasi secara lesan dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian.

Observasi dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan sifat penelitian karena mengadakan pengamatan secara langsung atau disebut pengamatan terlibat, dimana peneliti juga menjadi instrumen atau alat dalam penelitian. Sehingga peneliti harus mencari data sendiri dengan terjun langsung atau mengamati dan mencari langsung ke beberapa informan yang telah ditentukan sebagai sumber data. Pada metode ini, penulis menjadi bagian dari setiap aktivitas yang ada dalam organisasi sasaran.

Sesuai pendapatnya Faisol (1990: 78), dalam metode observasi ini peneliti memilih jenis observasi :

Observasi Partisipatif, adalah observasi yang sekaligus melibatkan diri selaku ôorang dalamö pada situasi tertentu. Hal ini agar memudahkan peneliti memperoleh data atau informasi dengan mudah dan leluasa.Akan tetapi pada situasi-situasi lain, peneliti berperan sebagai orang luar, hal ini untuk menjaga obyektifitas data yang dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, karena tingkat kedalaman hasil observasi partisipatif ini sangat bergantung pada kesempatan atau waktu peneliti dilapangan. Observasi terus terang dan tersamar, pada kondisi-kondisi tertentu peneliti perlu menggunakan observasi secara terang-terangan, dengan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian terlebih dahulu, agar mempermudah mendapatkan data yang diinginkan.

  1. TEKNIK ANALISA DATA

Setelah data diperoleh peneliti menganalisa secara kualitatif melalui tiga tahapan : Klasifikasi data Interpretasi data. Analisa diskriptif yang disajikan dalam bentuk narasi. Yang akan menceritakan bagaimana gambaran manajemen guru TIK di SMA Negeri 1 Marioriwawo.

  1. RENCANA PENGUJIAN KEABSAHAN DATA

Sebelum instrumen digunakan, terlebih dahulu akan didiskusikan dengan pakar yang berkompeten di bidang manajemen.

Uji keabsahan data pada penelitian ini direncanakan uji kredibilitas data, dalam bentuk perpanjangan pengamatan, trianggulasi dengan orang-orang di luar sampel yang mempunyai pengetahuan mengenai hal tersebut.

IV. WAKTU PENELITIAN

Waktu penelitian telah dijadwalkan antara bulan Maret s.d. Agustus 2008.

V. ORGANISASI PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk penyelesaian tesis, oleh karena itu peneliti tidak mempunyai organisasi, dalam hal ini semua penelitian dilakukan oleh peneliti sendiri meskipun dalam hal mengumpulkan informasi akan memanfaatkan berbagai sumber.

VI. PEMBIAYAAN

Biaya yang ditimbulkan dalam penelitian ini, menjadi tanggungan peneliti. Namun demikian bantuan sponsor akan diusahakan agar meringankan beban biaya.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989. Pasal 1 ayat (1) Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Amstrong. 1998. Sisetem Pengendalian Manajemen. Cetakan Ketiga. Terjemahan. Erlangga, Jakarta

Anonim. 1999. Garis-Garis Besar Haluan Negara. Jakarta

Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Rineka Cipta, Jakarta

Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I. 1986. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka, Jakarta.

Fattah Nanang. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung

Gibson, dkk. 1984. Organisasi dan Manajemen. Edisi keempat. Erlangga, Jakarta

Gomes, Faustiono. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Andi Offset, Yogyakarta

Handoko.H. 1991. Manajemen. BPFE, Yogyakarta

Hasibuan S.P., Malayu. 1995. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah. Edisi Pertama. Gunung Agung, Jakarta

Maula, A. 1989. Sistem Pengendalian Manajemen (Manajemen Control System). Erlangga, Jakarta

Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep dan Implementasi. Bandung, PT. Remaja Rosdakarya

Salam, Abdul. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Program Pasca Sarjana UNM, Makassar

Sarwoto. 1985. Dasar-Dasar Organisasi Management. Ghalia Indonesia, Jakarta

Siagian Sondang. 1992. Fungsi-fungsi Manajerial. Bumi Aksara, Jakarta

Siiswanto, HB. 2006. pengantar Manajemen. Bumi Aksara, Jakarta


Help ...??? Cari disini untuk pemasukan saya di (adsense)

Google

Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia
Staf Pengajar pada SMA Negeri 1 Marioriwawo Kab. Soppeng SUl-Sel Indonesia

Mari Bicara